Skip to main content
SearchLoginLogin or Signup

Memperluas Istilah Turunan Indonesia: Sebuah Studi Solidaritas (Antar) Negara dengan @Kamusqueer

Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Hugo Ramsey

Published onDec 07, 2021
Memperluas Istilah Turunan Indonesia: Sebuah Studi Solidaritas (Antar) Negara dengan @Kamusqueer
·
key-enterThis Pub is a Translation of

Pengantar

Andro (definisi): seorang lesbian dengan ekspresi gender androgini (KBQI, 2021)

Kamus Bahasa Queer Indonesia (@kamusqueer), sebuah akun Instagram yang didirikan oleh jaringan queer Indonesia local di tahun 2020, mengabungkan definisi-definisi queer dengan desain orisinal oleh artis-artis queer. Walaupun kebanyakan terma-terma di judul, seperti queer, gay, dan aksesual, berasal dari bahasa Inggris, segala bentuk wacana dan diskusi menggunakan bahasa Indonesia, bahasa nasional yang digunakan oleh masyarakat Indonesia bersamaan dengan ribuan bahasa daerah mereka. Beberapa istilah, seperti andro, memiliki makna berbeda – secara harafiah– dari bahasa penutur lain, beberapa istilah langsung memiliki makna asli dari kebudayaan Indonesia, seperti bissu (salah satu dari kelima gender yang diakui oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan) atau gemblak (laki-laki muda yang diasosiasikan dengan warok atau pemain sandiwara di Reog Ponorogo, Jawa Timur).

Analisa ini berdasarkan Analisa visual dan wacana dari konten Kamusqueer, berawal dari Juni 2020-2021, bersama dengan diskusi dan wawancara dengan pendiri akun tersebut. Studi ini dilakukan berdasarkan studi lapangan yang saya lakukan sekilas dengan komunitas queer di Bali dan Jawa di antara 2017-2020. Saya melihat pemaknaan Kamusqueer sebagai proyek nasional dan trans-nasional, yang menggunakan bahasa Indonesia dan desain menarik dan menghasilkan diskursus queerness yang memiliki konsep “Indonesia” dan global. Saya memaknai ide ini dengan menekankan konsep “kesatuan dalam perbedaan” yang diutarakan secara halus dan tersirat, sebuah konsep yang berasal dari terjemahan moto nasional Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Proyeksi komunitas queer nasional inklusif ini secara langsung direncanakan dengan memasukkan konsep bahwa komunitas queer Indonesia adalah anggota global yang “berbeda tapi tetap sama”. Saya memaknai konsep ini di 3 bagian. Bagian pertama mempelajari strategi-strategi Kamusqueer dalam klasifikasi, definisi, dan perbaikan sebagai upaya kontribusi lebih besar kepada komunitas queer nasional. Di bagian kedua, konsep “berbeda tapi sama” disempurnakan dan digunakan sebagai kerangka berfikir inklusif nasional. Di akhir, bagian tiga menjelajahi cara Kamusqueer untuk menghadirkan diri mereka di tengah komunitas queer global sekaligus memperkaya diri mereka sebagai bagian yang berbeda tapi tetap sama.

Klasifikasi-Klasifikasi Queer

Konten Kamusqueer pertama, yang telah dipublikasikan di bulan Juni 2020, menghadirkan defines queer sebagai istilah turunan bagi mereka yang tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai cis atau heteroseksual, atau yang memilih untuk ditidak di kotak-kotakan dalam penanda jelas (KBQI, 2020). Walaupun pengunaan kata queer disini menentang kategori-kategori heternormatif, car aini bukan digunakan sebagai alat politik untuk “mempertanyakan proses-proses normalisasi sosial dan identitas yang sudah terbentuk” (Eng, Halberstam, & Munoz, 2005).

Kamus Bahasa Queer Indonesia, “Queer", Instagram, June 9th, 2020. https://www.instagram.com/p/CBNsc4CBhlg/?utm_source=ig_web_copy_link

Secara general, Kamusqueer jarang melakukan advokasi untuk aktivisme oposisi. Pada saat penulisan penelitian ini, tidak ada satupun konten yang mereferensikan insiden-insiden yang berkaitan dengan komunitas queer Indonesia, seperti kasus pencambukan laki-laki homosexual sejak tahun 2014 (Tahjuddin, 2021), penangkapan masal pesta sauna gay di tahun 2017 (John, 2017), atau hasil dari protes besar-besar tentang revisi Rancangan Undang-Undang Kitab Hukum Pidana (RKUHP) di tahun 2019 (Heriyanto, 2019). Berdasarkan status komunitas queer, formulasi-formulasi masih sangat general dan tidak memberikan gambaran tentang peranan negara atau peraturan perundang-undangan. Sebagai contoh, unduhan yang menjelaskan mengenai interseks menyatakan bahwa: “banyak aktivis interseks yang menolak keras operasi penyesuaian kelamin pada bayi yang terlahir interseks.”⁣ (KBQI, 2020). Akan tetapi, unduhan tersebut tidak menyatakan peranan negara dalam praktik ini atau tekanannya untuk mengakhiri praktik tersebut.1

Melainkan, fokus unduhan tersebut menekankan potensi inklusif dari pernyataan “queer”, seperti Vernon, seorang aktivis non-biner dan pendiri dari Kamusqueer, jelaskan kepadaku dalam sebuah wawancara. Ketika terma LGBT telah digunakan di beberapa komunitas Indonesia dan khalayak umum untuk menamai subjek-subjek non-hetero seksual sejak awal abad ke-20 (Khanis, 2013), terma baru “queer” masih sangat jarang digunakan. Kebanyakan dari orang-orang Indonesia yang ku temui di studi lapanganku, Kamusqueer menggunakan istilah queer secara eksplisit sebagai istilah turunan yang menggantikan istilah konventional seperti LGBT, seperti yang Vernon jelaskan:

Saya ingin mengambil kembali makna tersebut… Saya ingin masyarakat mengetahui bahwa queer itu adalah bagian dari LGBT juga. Beberapa teman-temanku juga bingung, kenapa kamu harus mengatakan LGBTQ, LGBTQ, dan beberapa hal-hal tentang queer, dan saya ingin mereka tahu bahwa mereka dapat menggunakan queer, tanpa harus bingung. Saya berfikir bahwa queer adalah singkatan dari LGBT.

Melawan kebingungan dan prasangka baik dari dalam dan kepada komunitas adalah fokus utama dari keberadaan akun tersebut. Terma “queer” berfungsi dengan baik untuk tujuan tersebut daripada terma LGBT lama, yang telah mendapatkan banyak publikasi buruk di media Indonesia dan diskursus public dan diasosiasikan dengan penyimpangan dan ketiadaan moralitas (Anna, 2019). Aplikasi pendanaan dari akun ini, yang belum dapat dipublikasikan pada saat penulisan artikel ini, menakankan bahwa Kamusqueer:

Dibuat untuk membuka wawasan dan mendidik masyarakat tentang keberadaan komunitas queer di Indonesia. Kita ingin membuat KBQI sebagai tempat aman bagi komunitas queer Indonesia untuk merasa aman dan diterima, apalagi, untuk membuat konten bagi masyarakat luas untuk dapat mengapresiasi dan menghormati komunias LBGT… komunitas ini. Tim kita bekomitmen untuk menghasilkan konten-konten terbuka, jelas, dan menarik untuk menjelaskan tentang pertanyaan terma-terma LGBT atau tentang miskonsepsi LGBT.

Venon menjelaskan bahwa Pendidikan adalah bagian terpenting bagi aktivisme di Indonesia. Kekurangan informasi dalam dan tentang komunitas queer dan keberagaman dari anggotanya, menurut Venon, adalah salah satu tantangan utama bagi perubahan positif di masyarakat.

Itu selalu mulai dari pendidikan atau edukasi. Masyarakat kita yang pertama. Makanya saya mempunyai ide untuk membuat ruang ini. Saya fikir, anda dapat menggunakan desain dari presentas kami, di Sekolah, atau mungkin… di Sekolah swasta dan lain. Jadi iya, kita harus berawal dari pendidikan. Kalau tidak, kita tidak mungkin dapat kemana-mana. Kita dapat fokus di undang-undang, tapi kebanyakan orang tidak mengerti tentang kita, tidak akan ada perubahan.

Walaupun ruang ini menginspirasi untuk mengapai lebih banyak masyarakat Indonesia, untuk sementara waktu ruang ini hanya dikunjungi oleh komunitas queer dan para pendukungnya (allies). Berdasarkan fakta ini, proses “pembersihan” atau “edukasi” adalah Langkah pertama untuk memberitahu dan menghubungkan komunitas queer di Indonesia.

Dengan ilustrasi-ilustrasi berwarnanya dan kalimat-kalimat yang ditulis dengan teliti, upaya Kamusqueer menggabungkan hubungan komunitas translokal dengan artikulasi kategori identitas-identitas. Fungsi inklusivitas tapi pembatasan jelas kategori-kategori tersebut dalam proses ini sangat krusial. Sebagai contoh, dalam unduhan mengenai makna “androgini”, yang mendefinisikan sebagai, “Istilah yang memiliki arti peraduan sifat maskulin dan feminin secara bersamaan” (KBQI, 2020), yang terpisah dengan istilah seperti androgin dan bigender. Teks ini juga memberikan peringatan agar tidak berasumsi dengan gender seseorang supaya mencegah menandakan gender seseorang dengan salah. Sebagai contoh, seorang non biner atau transgender dapat menampilkan diri sebagai maskulin atau feminism dapat tersinggung ketika mereka ditandai secara salah sebagai seorang androgini.

Kamus Bahasa Queer Indonesia, “Androgini,” Instagram, October 29th, 2020. https://www.instagram.com/p/CG7W_5GASmZ/?utm_source=ig_web_copy_link

Penekanan dalam pemisahan kategori dan istilah tentang gender dan seksualitas dalam komunitas queer Indonesia melampaui penemuan Kamusqueer. Dalam batasan apa waria dan transpuan disamakan, sebagai contoh, sangat didebatkan di penelitian lapanganku di tahun 2017. Sebagai kontras dengan kedua subjektivitas, waria – atau individu non normative atau berwatakan feminism yang telah ditandai sebagai seorang laki-laki sejah lahir – dan komunitas waria sudah berada di Indonesia sejak lama. Walaupun waria sudah diterima dan diakui secara terbatas, akses kepada layanan Kesehatan, edukasi, dan perkembangan karier sangatlah terbatas. Beberapa dari mereka yang mengidentifikasi sebagai seorang transpuan secara spesifik menjauhi diri mereka dengan terma lama waria dan asosiasi-asosiasi negative mereka dengan pekerja seks dan kekerasan (Oetomo, 2000). Permasalahan lain adalah apa yang mereka anggap sebagai penggunaan kata seperti transpuan (istilah berasal dari globalisasi dan pengaruh negara-negara berbahasa Ingris) dan lebih memilih istilah yang memiliki hubungan tradisi dengan Indonesia seperti waria. Seperti Agung, seorang seniman queer, pengacara, dan salah satu pendiri dari Kamusqueer, menjelaskan, tensi-tensi seperti itu menjadi permasalahan ketika merangkum penjelasan.

Kalau kita mencoba untuk menerjemahkan waria menjadi transpuan, istilah tersebut bukanlah sama, penerjemahan tersebut tidak masuk akal, jadi kita mencoba untuk menjelaskan terma Indonesia. Walaupun hal tersebut dapat dikatakan sebagai kontroversial, karena Sebagian besar dari komunitas di Indonesia mungkin akan tersinggung jika kita membawa kata waria karena itu bermakna negative, tapi… komunitas lokasi yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, beberapa orang tidak cocok dengan istilah transpuan … di komunitas waria.

Kamusqueer memposisikan dirinya di situasi seperti ini dan di debat-debat yang sama tentang istilah-istilah queer di Indonesia melalui pelaporan dan berkontribusi kepada istilah-istilah queer. Akan tetapi, pendiri Kamusqueer mengetahui tentang potensi-potensi kontroversial dan ekslusivitas dalam proses pembenaran kategori-kategori identitas gender dan seksualitas. Bio atau deskripsi singkat dari akun tersebut secara gamblang menyatakan bahwa definisi-definisi tersebut terbuka untuk “pembenaran”. Teks pendukung yang berada di bawah unduhan secara bersamaan memberikan tafsiran dari istilah-istilah yang sudah disediakan, sekaligus dengan peringatan-peringatan bahwa tidak semua orang ingin melabel diri mereka sendiri. Akan tetapi, diskusi tentang definisi-definisi tersebut seringkali muncul, baik di komentar terbuka di akun Instagram atau pesan pribadi di (direct messages atau pesan langsung) dari fitur Instagram dengan staff-staff Kamusqueer. Interaksi-interaksi ini, yang dilakukan oleh banyak queer-queer di Indonesia, berawal dari pertanyaan-pertanyaan dan pembenaran ringan hingga kritik pedas. Staff Kamusqueer seringkali mengubah tulisan unduhan atau menawarkan pembenaran dan alternatif-alternatif lainnya di bagian komentar. Akan tetapi, jika ada seseorang yang berserikeras untuk meminta sebuah unduhan untuk diturunkan karena unduhan itu sangat “salah”, staff tersebut tidak melakukan permintaan tersebut.

Pentingnya untuk “membuat semuanya benar”, terbukti dengan perhatian detiil kepada semua pembentukan definisi dan penjelasan, bersama dengan debat-debat berkelanjutan tentang istilah lama dan baru, dapat dimengerti dari berbagai sisi. Sebagai satu contoh, Kamusqueer adalah sebuah upaya untuk memetakan dan menyelaraskan kepentingan-kepentingan komunitas marjinal dan beragam yang tersebar di seluruh Indonesia bersamaan dengan komunitas diaspora global. Sampai detik ini, perenungan tentang kecenderungan organisasi LGBTIQ global untuk menekankan perubahan yang bersifat global, universal, dan statis di Asia dan di seluruh dunia (Cruz-Malavé & Manalansan IV, 2002). Pushpesh Kumar, sebagai contoh, memperingatkan bahwa:

Strategi paling dominan dan jelas masih terbatas dalam tekanan hak-hak politik dalam sistem saat ini, dan gagal untuk melihat sistem-sistem kekuasaan ganda dan berlapis yang mengatur kehidupan kita … reifikasi dan mengurangi penindasan sebagai ‘politik minoritas seksual’ atau apa yang dilihat sebagai wajah neo liberal Gerakan seksualitas (Kumar, 2017).

Walaupun penggunaan penanda dan penanda dalam penanda oleh Kamusqueer terkesan sangat mirip dengan pendekatan identitas tersebut, jarak dalam konsensi hak sekaligus dengan politik visibilitas menandakan hal yang berbeda. Saya menyarankan pembacaan Kamusqueer sebagai debat tentang bahasa yang terbuka dan berkelanjutan dan representasi, yang memberikan ruangan untuk “refleksi dalam heterogenitas dan lapisan dalam komunitas marjinal di sebuah kelompok dan prioritas Gerakan dalam komunitas marjinal di dalam kelompok tersebut” (Kumar, 2017); lebih mendalam adalah dengan aksesibilitas dari Kamusqueer sebagai sebuah akun Instagram di Indonesia, diversitas yang dipresentasikan dari komposisi staff dan visual dari unduhan-unduhan Instagram, dan ajakan untuk koreksi dan diskusi, dan penciptaan sebuah ruang yang dapat melimitasi sebuah komunitas untuk menghasilkan batasan-batasan makna dan inklusivitas.

Pembacaan alternatif ini menungkapkan penekanan dalam kategori-kategori identitas yang dikemukakan oleh Kamusqueer kepada pembaca-pembacannya sebagai strategi untuk solidaritas perbedaan. Penggunaan besar-besaran internet mobile di Indonesia, popularitas media sosial dan anonimitas yang ia dapat sediakan, membuat Kamusqueer dapat diakses di seluruh daerah, budaya, dan kelas-kelas sosial. Kamusqueer, rujuk Kembali kepada statement pendana, hadir untuk membuat semua komunitas queer di Indonesia merasa “diketahui”. Fungsi Kamusqueer ini hadir dengan identifikasi, dan penjelasan, dan diskusi memberikan kehadiran alternatif dalam bentuk partisipasi on-line, dan mengabungkan banyak individual dan kelompok untuk bergabung dalam satu komunitas “queer”. Solidaritas selalu digalakkan dari konsep persamaan identitas, di mediasi oleh platform yang mudah untuk diakses, tanpa harus ada banyak kondisi seperti Instagram.

Serangan COVID-19 memperlihatkan potensi solidaritas ini. Langkah-langkah pembatasan Gerakan di Indonesia, seperti di banyak tempat di seluruh dunia, berdampak kepada mereka tanpa perlindungan sosial dan finansial yang baik. Banyak waria dan transpuan, karena diskriminasi sosial dan institusional tidak memiliki akses terhadap pekerjaan-pekerjaan baik, mencari pekerjaan mereka sebagai pekerja harian di servis jasa, seperti salon, jasa hiburan, dan juga jasa seks komersial (Oetomo, 2000). Ketika pembatasan wilayah berlanjut, banyak dari komunitas marjinal ini kehilangan pekerjaan mereka dan sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Komunitas queer di Indonesia menanggapi dengan cepat. Hanya dalam beberapa minggu, banyak penggalangan dana dibuat dan “disebarkan”, seperti yang diketahui, ke seluruh sosial media. Salah satu dari penggalangan dana, yang saya bantu untuk mempersiapkan jadi saya mengetahui proses ini secara langsung, ditujukan kepada komunitas waria yang terpencil dan terdampak di Flores, sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur, sebuah wilayah di Indonesia Timur. Terlepas dari susahnya jangkauan kepada penerima dana dari pendonor dan pemberi dana, sejumlah uang sudah dapat dikumpulkan dalam beberapa minggu. Tidak lama kemudian, karung-karung beras, rempah-rempah, dan keperluan lainnya akan didistribusikan ke komunitas-komunitas. Video dan gambar tentang proses distribusi dengan cepat dan efisien di berikan kepada semua donor melalui sosial media. Menurut Agung,

Solidaritas adalah salah satu kekuatan kita… karena pandemic ini, kita harus membantu beberapa komunitas kita yang tidak beruntung… ketika kamu ditanya tentang advokasi dan aktivisme Indonesia, apa yang sangat penting, menurut aku adalah menjaga komunitas kita, untuk menanyakan tentang hak kita sebagai komunitas queer adalah konteks yang cukup jauh, kita harus memiliki hak fundamental sebagai komunitas queer yang belum terpenuhi, dan aku kira itu harus menjadi fokus kita saat ini.

Venon menambahkan:

Sosial media sangat berdampak untuk keadaan saat ini. Dampak komunitas queer Indonesia di Twitter itu sangat besar, dan saya dapat merasakan solidaritas sedang menyala, kau tahu. Sebelumnya, saya tidak begitu kenal dengan komunitas ini sebelum aku bergabung dengan organisasi ini, saya memiliki beberapa teman-teman queer, tapi ketika kamu berkenalan lebih dalam dengan komunitas ini, kamu dapat melihat bahwa solidaritas sangat ada, itu selalu ada. Kita membantu satu sama lain. Kita saling melindungi. Dan itu adalah hal yang luar biasa.

Solidaritas disini berasal dari jaringan sosial media queer, yang dirangkai, dinamai, dan dikonsolidasikan oleh inisiatif-inisiatif seperti Kamusqueer. Anonimitas semu yang sosial media seperti Instagram memberikan sebuah peranan penting bagi proses ini. Tidak ada satupun dari admin Kamusqueer terbuka dengan identitas queer mereka, tapi struktur sosial media memberikan jalan untuk terhubung kepada ranah orang-orang yang terpercaya dan tetap anonym dengan yang lain.

Keterhubungan ini sendiri menjadi garis kehidupan bagi banyak orang di komunitas, terutama mereka yang jaraknya lebih jauh dari daerah-daerah urban, lokasi tempat-tempat queer berada. Chat daring Instagram sediakan dan sosial media lainnya, sebagai contoh, memberikan wadah untuk berbicara tentang isu-isu yang muncul – dari berdiskusi tentang film LGBTIQ terkini ke tips-tips pacaran dan empati virtual bersamaan dengan kegeraman daring tentang kasus-kasus diskriminasi. Semua Tindakan tersebut menunjukkan solidaritas berdasarkan rasa saling percaya dan praktik kerahasiaan anggota Kamusqueer, seringkali tumpeng tindih, dengan jejaringan. Seperti yang Venon beritahu : “Akan selalu ada ketakutan untuk dilarang oleh polisi daring. Pemerintah memiliki polisi daring yang selalu siap dan siaga, (jadi) kita sangat takut dengan hal tersebut.” Fungsi sosial media sebagai wadah dan alat untuk mengekspresikan solidaritas queer sangatlah penting dalam proses-proses ini, yang sangat bergantung dengan jaringan-jaringan queer dasar dan anggota-anggota beragam. Keberagaman, jauh dari sebuah ancaman kepentingan bersama, dimanfaatkan sekarang sebagai fitur dan kualitas positif identitas queerness di Indonesia.

Kebersamaan Queer di Kala Perbedaan

Semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (Jawa Kuno : Dari Banyak, Satu) selalu diterjemahkan menjadi “Berbeda-Beda Tapi Tetap Sama”. Pernyataan ini, yang terpampang di symbol nasional dan diadopsi menjadi konstitusi negara, mencerminkan tantangan Indonesia untuk mempersatuan masyarakat yang multicultural dan daerah geografis luas menjadi 1 negara kesatuaan Indonesia di tahun 1950 (Kersten, 2017). Hanya dengan mengakui dan menggolongkan agama-agama, etnisitas, dan bahasa-bahasa di Indonesia masa kini, Indonesia dapat berdiri menjadi negara kesatuan (Sidi, 2019). Berdasarkan pengalaman ini, kerja Kamusqueer untuk mengkategorisasi, mendefinisikan, dan membuat jelas tentang perbedaan jenis-jenis seksualitas dan gender dapat dimengerti sebagai tuntutan inklusivitas kepada individu-individu dan kelompok marjinal kedalam kerangka diversitas Indonesia.

Secara general, Kamusqueer memposisikan diri mereka sepenuhnya sebagai Indonesia. Pertama-tama, fokus bahasa sebagai alat solidaritas, projek ini menyuarakan apa yang Boellstroff deskripsikan sebagai “bahasa gay”, sebuah logat Bahasa Indonesia yang digunakan oleh komunitas non-heteroseksual dan penanda identitas-identitas di luar waria dan laki-laki (Boellstorff, 2005). Walaupun banyak sekali kesamaan istilah-istilah di akun Instagram tersebut dengan bahasa-bahasa penutur Inggris, asosiasi-asosiasi dan definisi tersebut mulai memperoleh makna mereka di beberapa daerah spesifik, dan konteks-konteks sejarah. Sebagai contoh, kata lesbian yang diartikan sebagai istilah perempuan non-heteroseksual,2 merangkup beberapa istilah berdasarkan ekspresi gender, seperti butchi, fem, dan andro, juga seperti tanpa label, yang menariknya dapat digunakan sebagai label bagi mereka yang tidak masuk ke kategori-kategori sebelumnya (KBQI, 2020).

Kamus Bahasa Queer Indonesia, “Andro,” Instagram, January 6th, 2020. https://www.instagram.com/p/CJsQ4AQAuSd/?utm_source=ig_web_copy_link

Fungsi spesifik bahasa ini mengambil kualitas performatif yang menghasilkan kesatuan komunitas queer dan dirangkum ke dalam kata-kata, bersama dengan memetakan dan memenuhi syarat sebagai subjek-subjek beragam. Seperti sebuah unduhan yang mengingatkan para pembaca dengan pepatah “tak kenal maka tak sayang”.

Jangkauan inklusitivitas ini tidak hanya terbatas kepada gender dan seksualitas. Representasi-representasi lainnya, seperti warna kulit, bentuk tubuh, dan gaya rambut, ditangkap di ilustrasi-ilustrasi luar biasa di unduhan-unduhan yang menerangkan tentang keberagaman daerah dan kebudayaan yang ingin ditangkap dalam projek ini. Pernyataan pendanaan membuat tujuan ini jelas:

Sebagai usaha untuk tampil sebagai identitas Indonesia, queer dan non-queer, semua tulisan menggunakan bahasa Indonesia, dan ilustrasi mereka didesain untuk merepresentasikan budaya dan masyarakat Indonesia yang beragam. Sangat penting bagi kita untuk membuat unduhan kita tersedia untuk pembaca Indonesia, tanpa kendala bahasa.

Hubungan antara keberagamaan penerimaan dan pengakuan nasional dan posisi queer Indonesia dikuatkan dengan unduhan-unduhan baru yang dikhususkan unuk “warisan queer Indonesia”3. Selain unduhan tentang seni dan budaya seperti warok dan gemblak, sebuah serial 4 unduhan digunakan sebagai penjelasan tentang 5 sistem gender dari kebudayaan Bugis, Sulawesi Selatan. Catatan pertama dari serial ini memperkenalkan pembaca kepada tema: “Keberagaman di Indonesia tidak hanya mengenai perbedaan suku dan ras maupun bahasa, tapi juga meliputi keberagaman gender di lingkungan adat” (KBQI, 2020). Unduhan ini menjelaskan bahwa walaupun mayoritas Indonesia mengenal dengan 2 gender, masyarakat bugis percaya bahwa gender adalah sebuah rangkaian kesatuan dan mengakui 3 kategori-kategori lainnya: calalai, calabai, dan bissu. Keitka unduhan-unduhan ini mengali lebih dalam tentang kategori-kategori gender tersebut dan makna budaya dan sejarah mereka – bersamaan dengan pengunaan istilah-istilah SOGIESC (orientasi seksual, identitas gender dan ekspresi; lihat juga di bagian berikutnya) – para pembaca diharapkan untuk mengerti fenomena kebudayaan unik ini sebagai satu dari banyak keberagamaan yang melekat dan terhormat. Di satu sisi, non-heteronormativitas gender dan seksualitas, dibandingkan kategori-kategori local dan nasional, dinaturalisasi sebagai bentuk diversitas tidak berbahaya, berbeda dengan – diversitas yang diterima oleh masyarakat seperti agama, etnisitas, dan bahasa. Di saat bersamaan, gemblak dan warok Jawa, bersamaan dengan bissu, calabai, dan calalai Bugis, dijadikan sebagai komunitas queer Indonesia.

“Bissu (definition): A priest of the ancient Bugis religion. They are not bound to one [particular] gender (without gender).” Source: Kamus Bahasa Queer Indonesia, “Bissu,” Instagram, November 21st, 2020. https://www.instagram.com/p/CH2ghxRAd3G/?utm_source=ig_web_copy_link

Lebih umum, penanda seruan solidaritas dan persatuan oleh Kamusqueer juga secara khusus memiliki ciri khas Indonesia. Sebagai contoh, unduhan yang memperkenalkan kerangka berfikir SOGIESC menjelaskan lapisan-lapisan berbeda orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi melalui illustrasi kue lapis, sebuah kue manis yang berlapis dan sangat terkenal di Indonesia. Selain itu, seluruh usaha Kamusqueer di bangun dari awal sampai akhir oleh komunitas-komunitas queer Indonesia. Selain staff admin, yang mengatur tema dan kalimat-kalimat unduhan yang akan dipublikasikan, seniman-seniman yang membuat illustrasi dari unduhan-unduhan tersebut adalah seniman queer. Diantara mereka, seperti seniman dan desainer Hilda (@coccariae), secara personal sudah dikenal dengan seni miliknya dan menaruh linimasa dari media sosialnya, sedangkan teman-teman yang lain sering dikenal dengan seninya mereka dan memiliki nama di komunitas kecil. Beberapa seniman juga terhubung dengan proyek Kamusqueer lainnya, Kwiir, yang membantu pembuat konten trans dan queer dengan cara mengiklankan dan menjual produk-produk mereka.

Unduhan-unduhan public berisi istilah seringkali dimasukkan dengan “seruan-seruan”: foto-foto, pesan suara, dan pesan-pesan tertulis dari figur-figur queer Indonesia yang penting. Salah satu dari mereka, Kai Mata, seorang penyanyi dan aktivis queer, berpose dengan memegang sebuah bendera Indonesia dengan tangan terulur, mengigit sebuah bendera Pelangi, kecil diantara giginya. Pesannya untuk pembaca Kamusqueer adalah : “ Indonesia adalah negara yang Bersatu dari berbagai macam keberagaman yang ada. Termasuk beragam gender dan orientasi seksual. Kami termasuk dari dalamnya, kami adalah bagian dari Indonesia” (KBQI, 2021). Menggemakan pesan “persatuan dalam perbedaan”, Kai Mata secara terbuka memasukkan kerangka berfikir SOGIESC, yang menjadi dasar dari sistem-sistem kategori Kamusqueer, kedalam kerangka berfikir keberagaman.

Artis-artis queer lainnya yang muncul ke dalam unduhan mereka masing-masing adalah Xadit, seorang penata busana genderqueer dari Bandung, dan Cara Marianne, seorang aktivis transpuan hidup di Jakarta. Kedua unduhan, yang membahas tentang semua queer Indonesia dan menekankan kekuatan dan kepercayaan diri dalam menghadapi banyak sekali cobaan, telah mendapatkan banyak sekali komentar positif dan jumlah dukungan. Cara mereka dalam menyapa banyak pembaca mereka sebagai satu komunitas nasional juga dicerminkan oleh teks-teks yang ditulis oleh admin Kamusqueer. Banyak tulisan-tulisan dibuka dengan frasa seperti “Halo sahabat Queer Indonesia,” “Semangat Hari Senin Teman Queer Indonesia,” atau hanya, “Hi Queer Indonesia!”. Penggunaan kata-kata seperti Komunitas dan Kelompok dalam merujuk kepada diri sendiri dan orang lain dalam unduhan-unduhan menekankan persatuan dan harmoni di antara pembaca Kamusqueer, dan sebagai perpanjangan untuk mengkonsolidasi identitas solidaritas. Akan tetapi, walaupun ada empati Indonesia di Kamusqueer, proyeknya bukanlah sebuah proyek nasionalis. Seruan solidaritas melalui motto “persatuan di perbedaan” diperluas melebihi perbatasan-perbatasan nasional dan dapat ditujukan sebagai komunitas queer global beragam.

Membayangkan Komunitas Global

Walaupun bayangan solidaritas queer yang diperlihatkan oleh Kamusqueer memiliki identitas ke-Indonesiaan yang kuat, jejaring ini juga bertujuan untuk melampaui kerangka berfikir nasional. Sebagai sebuah kelompok yang menekankan berat dengan konsep SOGIESC, kerangka berfikir yang banyak digunakan oleh lingkaran aktivis queer internasional, Kamusqueer menempatkan dirinya ke dalam diskursus internasional ini. Selain menjelaskan kerangka SOGIESC secara rinci di unduhan-unduhan mereka, istilah-istilah yang membentuk akronim sering muncul dalam penjelasan-penjelasan kategori-kategori berbeda. Istilah transpuan, misalnya, adalah gabungan antara bahasa Inggris “transgender” dan bahasa Indonesia “perempuan” didefinisikan di sebuah unduhan sebagai : “Transpuan ialah seseorang yang saat lahir ditetapkan sebagai laki laki, namun kemudian hari menyadari bahwa identitas gender sesungguhnya adalah sebagai perempuan”(KBQI, 2021). Sementara banyak orang di Indonesia mengidentifikasikan diri mereka sebagai seorang transpuan, seperti gay, lesbian, dan transpria dan seringkali mereka menggunakan istilah-istilah orientasi seksual dan identitas gender, penerapan kerangka berfikir SOGIESC lebih tua seperti calalai, calabai, dan bissu harus dimengerti sebagai sebuah pilihan khusus di Kamusqueer. Dalam studi etnografis Davies di komunitas Bugis, istilah-istilah seperti identitas gender dan orientasi seksual tidak diakui dalam kosa kata komunitas tersebut (Davies, 2010). Pengunaan konsep-konsep bahasa Inggris dalam konteks-konteks ini mengirimkan pesan-pesan untuk memasukkan warisan kebudayaan Indonesia ke dalam keberagamaan gender dan seksualitas global – maka dengan itu, konteks tersebut menyarankan alternatif untuk solidaritas-solidaritas identitas nasional belaka.

Kamus Bahasa Queer Indonesia, “Kue Lapis,” Instagram, August 24th, 2020. https://www.instagram.com/p/CERIyD-Az98/?utm_source=ig_web_copy_link

Kedua, element Pelangi di logonya, sekaligus dengan beberapa bentuk-bentuk Pelangi dan elemen-elemen Pelangi dalam beberapa unduhannya, adalah kenangan tentang bendera-bendera Pelangi yang dikarakterisasi dengan perayaan Pride di seluruh dunia. Desain-desain beberapa unduhan pasti dikaitkan dengan warna-warna beberapa bendera pride. Sebagai contoh, seseorang yang digambarkan di unduhan dengan judul “aseksual” dapat dilihat mengenakan sebuah t-shirt dengan garis hitam, abu-abu, dan putih : warna-warna bender aksesual, yang dibuat oleh beberapa wadah aseksualitas di tahun 2010. Mirip dengan hal tersebut, baju warna biru, putih, dan pink dikenakan oleh seorang figur untuk menjelaskan tentang definisi transgender adalah warna-warna bender trans. Seperti kebanyakan organisasi dan Kolektif queer Indonesia, Kamusqueer merayakan perayaan-perayaan internasional seperti Pride Month dan Transgender Days of Remembrance.

Banyak sekali diskursus internasional muncul berdampingan dengan gambar-gambar di unduhan-unduhan Instagram, kebanyakan adalah diskursus Amerika Serikat. Dalam penjelasan mereka tentang istilah queer, unduhan pertama Kamusqueer menjelaskan tentang makna istilah tersebut dari referensi sejarah di tahun 1969, Stonewall. Penjelasan tentang istilah homoseksualitas mengambil referensi sejarah istilah tersebut, serta saat ketika istilah homoseksualitas dihapus sebagai sebuah kelainan psikis di Manual Diagnostik dan Statistik Amerika Serikat (DSM). Sejarah istilah-istilah LGBT, queer, dan homoseksualitas di Indonesia, yang berkembang di Indonesia keadaan berbeda-beda, tidak disebut dalam unduhan ini. Beberapa unduhan-unduhan juga menyertakan teori-teori queer Amerika Serikat. Sebagai contoh, sebuah unduhan berjudul “Gender dan Jenis Kelamin” menyediakan sebuah kutipan dari Judith Butler Masalah Gender : “Jika atribut dan perilaku gender - berbagai cara tubuh menunjukkan atau menghasilkan signifikasi kultural gender - hanyalah performatif, maka sejatinya tidak ada identitas gender, atribut gender, dan tindakan gender yang benar atau salah; yang nyata atau terdistorsi” KBQI, 2021. Bahwa penulis tidak memiliki tekanan untuk menjelaskan tentang kutipan Judith Butler dan konteks Indonesia menunjukkan sebuah komunitas trans – atau pasca nasional, yang menunjukkan bahwa komunitas queer Indonesia adalah setara, termasuk dalam persamaan dan perbedaan.

Pembacaan Kamusqueer sebagai bagian dari kerangka berfikir gender dan seksualitas universal adalah Langkah reduktif. Seperti yang dijelaskan di atas, penanda, symbol, dan diskursus yang dirangkai oleh Kamusqueer dan konsolidasikan sebuah sebuah rasa solidaritas dan komunitas adalah seratus persen Indonesia, tapi selalu tetap mereferensikan identitas global. Konsep ini mirip sekali dengan penulis-penulis Asia Pasific Queer muat dalam landasan pemikirannya : “perlawanan local esensialis dan homogenisasi global tentang pandangan queer universal” (Martin, Jackson, McLelland, & Yue, 2008). Melainkan, Kamusqueer menyatakan bahwa “kebudayaan gender dan seksualitas selalu, dan akan selalu, berubah pada saat mereka bertemu dengan pertemuan pengetahuan-pengetahuan transnasional dinamis”(Martin et al., 2008:6). Salah satu contohnya adalah perkembangan awal dari Kamusqueer. Di salah satu ruang percakapan virtual Whatsapp, yang saya dapat berpartisipasi didalamnya, salah satu pendiri Kamusqueer membagikan sebuah tautan untuk akun Instagram @United_UK1. Sama seperti Kamusqueer, akun tersebut juta mempublikasikan unduhan-unduhan warna-warni dengan penjelasan tentang istilah-istilah queer dan perlawanan prasangka buruk komunitas queer di konteks Britania Raya. Walaupun Venon menyatakan bahwa mereka terinsipirasi oleh akun @United_UK1 dalam membuat Kamusqueer, perbedaan fokus antara kedua akun mengungkapkan perbedaan konteks local antara kedua akun membuka konteks gender dan seksualitas berbeda. Terlepas dari penanda bahasa dan kebudayaan, istilah-istilah beserta dengan prasangka dan karakterisasi buruk di dua media sangat berbeda. Seperti Unite_UK1 mengikuti dan mencerminkan sejarah dan kebudayaan Inggris, Kamusqueer adalah hasil dari silsilah Indonesia.

Sebaliknya, Kamusqueer adalah alat perlawanan tentang ide negara sebagai dasar kokoh sebuah identitas. Dalam perdebatan kerangka berfikir queer sebagai dasar solidaritas, pengakuan, dan penerimaan, Kamusqueer menentang gagasan bahwa hak-hak minoritas dapat ke kelompok-kelompok tertentu dalam peranan mereka dan sejarah dari negara tersebut (Kymlicka, 1989). Sebaliknya, Kamusqueer menyerukan cara berpandang queer global dan non-daerah, yang sulit dipahami tapi tersebar di seluruh penjuru dunia, untuk menginformasikan cara dan pemahaman kehidupan kelompok queer. Ketika melakukan Tindakan tersebut, Kamusqueer berpegang teguh dengan perspektif bertentangan dengan pandangan kulturalis dan kolektivitas nasionalisme, “yang menghadirkan penekanan kolektivitas territorial (teologis ataupun rasial), seolah-olah pandangan tersebut adalah tempat penyimpanan warisan budaya utama” (Walker, 1996).

Kesimpulan

Terimalah bahwa kita memang unik dan berbeda. Namun sadarilah, bahwa keunikan itu valid dan tak perlu disembunyikan. Yakinilah diri kita bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan. Dengan begitu, kita akan memahami bahwa menjadi unik dan berbeda adalah sesuatu yang membanggakan (KBQI, 2021).

Unduhan Pride Month 2021 menampilkan kata-kata penguatan ini bersama dengan desain-desain yang menarik. Seorang dengan rambut panjang memegang sebuah cermin tak kasatmata dan memandang pantulan bergaris pelanggi diri mereka sendiri. Gambar ini merefleksikan keseimbangan antara perbedaan dan keunikan, dan diantara kepemilikan dan perbedaan, sebuah pandangan yang Kamusqueer ingin cari. Fungsi pengenalan diri sendiri bertindak tidak hanya untuk perkembangan identitas individu tersebut, tapi berhubungan dengan orang yang memiliki identitas sama.

Kamus Bahasa Queer Indonesia, “Mari Mengenal diri di Bulan Kebanggaan,” Instagram, June 26th, 2020. https://www.instagram.com/p/CQlL50mg771/?utm_source=ig_web_copy_link

Melalui klarifikasi, kategorisasi, dan definisi, Kamusqueer mendukung eksistensi komunitas queer Indonesia, dan lebih jauh lagi, pentingnya solidaritas. Dalam hal tersebut, Kamusqueer secara implisit menggunakan motto nasional Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”, demi menyertakan gender dan keberagaman seksualitas ke dalam kategori-kategori identitas nasional lainnya yang sudah diakui di Indonesia seperti etnisitas, bahasa, dan agama. Pada saat yang sama, Kamusqueer ingin melampui identitas nasionalisme, dengan menempatkan diri sebagai salah satu bagian dari komunitas pasca-nasional, global, sebuah pandangan yang menepatkan dirinya sebagai beragam tapi Bersatu. Kamusqueer pada saat yang bersamaan membentang bendungan queer Indonesia melampaui Batasan pulau dan negara.

———————————————————————————————————————————

Profil Penerjemah

Hugo Ramsey adalah seorang pemimpi amatir. Dia bercita-cita bahwa satu hari nanti dunia dapat berubah untuk terbaik. Untuk saat ini, mimpi adalah hal terbaik baginya.

Profil Penulis

Wikke Jansen adalah seorang mahasiswi doctoral tahun ketiga di Sekolah Pascasarjana Kebudayaan dan Masyarakat Muslim Berlin, dan berafiliasi dengan Institut Studi Asia dan Afrika di Universitas Humboldt. Fokus studinya adalah pengalaman Indonesia queer di ranah aktivisme, agama, dan kehidupan sehari-hari. Dia tertarik dalam meng(queer)kan agama-agama di Asia Tenggara dan Eropa, teori mobilisasi, studi media, riset etika, dan antropologi kolaboratif. Dia juga adalah anggota komite di Kolektif aktivisme dan akademik di queer/disrupt.

Comments
0
comment

No comments here

Why not start the discussion?